Ramalan Jayabaya Yang Telah Terjadi

Selasa, Oktober 05, 2010

Pada posting saya yang lalu, saya pernah memposting tentang ramalan -  ramalan jayabaya. Jika anda belum membaca, silahkan baca dahulu disini. Pada posting kali ini, saya akan menulis beberapa dari ramalan Jayabaya yang telah terjadi.
Seperti sudah saya tuliskan diatas, Jayabaya telah meramalkan banyak hal yang akan terjadi, berikut ini adalah ramalan – ramalan yang telah terjadi tersebut :
  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran – Nanti akan ada kereta tanpa kuda. Sekarang kita bisa mengendarai mobil tanpa harus menggunakan kuda.
  2. Prau mlaku ing dhuwur awang-awang – Perahu berjalan diatas angkasa. Sekarang kita juga sudag bisa menikmati KAPAL TERBANG (pesawat) bukan?
  3. Kali ilang kedhunge – sungai hilang lubuknya (bagian sungai yang dalam). Sekarang sungai sudah banyak mengalami pengendapan oleh letusan gunung, erosi, bahkan timbunan sampah.
  4. Pasar ilang kumendang – Pasar kehilangan keramaian (suara). Sekarang kita bisa “pergi” ke pasar untuk membeli apa saja melalui internet dan telepon.
  5. Sekilan bumi dipajeki – Sejengkal tanahpun terkena pajak. Sekarang setiap tanah mempunyai sertifikat, dan pemiliknya harus membayar pajak. Bahkan tanah kontrakan seperti flat, apartemen pun terkena pajak. Ironisnya, pemilik kontrakan, flat, kost, apartemen, harus membayar pajak dari uang sewa yang mereka peroleh.
  6. Wong wadon nganggo klambi lanang – Perempuan memakai pakaian laki-laki. Sudah menjadi kewajaran sekarang perempuan memakai celana yang dahulu ( dijawa) hanya dikenakan oleh kaum pria saja.
  7. Akeh janji ora ditepati  - Banyak janji tidak ditepati. Banyak orang dijaman ini banyak orang yang dengan gampang mengumbar janji dan sangat enteng untuk melupakan apa yang telah dijanjikannya tersebut.
  8. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe – Banyang orang berani melanggar sumpahnya sendiri. Contoh nyata adalah para pegawai, pejabat, bahkan mungkin kita yang pernah bersumpah dan dengan mudah melanggar sumpah tersebut.
  9. Manungsa padha seneng nyalah  - Manusia suka berbuat salah. Ingatkah kalimat “PERATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR” ?. Banyak orang merasa bangga ketika berbuat sesuatu yang salah. Melanggar lampu merah, membolos, dll.
  10. Ora ngendahake hukum Allah – Tidak mengindahkan hukum Tuhan. Pernahkanh Anda melakukannya? Hihihihi…hanya bercanda, tapi katanya “semua orang pernah melakukan dosa”. Apakah ini hanya PEMBENARAN kita saja untuk melegalkan melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan?
  11. Barang jahat diangkat-angkat – Yang jahat diangkat-angkat. Dari barang selundupan yang murah, sampai pejabat yang curangpun kita angkat.
  12. Barang suci dibenci – Yang suci dibenci dan dihindari. Melakukan atau berbuat sesuai dengan prosedur membuat kita malas bukan? Lama, berbelit-belit, ngantri, memakan banyak waktu, tidak sempat, dll. Itu pembenaran kita….
  13. Akeh manungsa ngutamake dhuwit – Banyak manusia mendewakan UANG. Tanpa uang kita tidak bisa mendapatkan apa-apa sekarang. Dan banyak diantara kita yang mementingkan uang daripada cinta, kasih, dan keluarga.
  14. Lali kamanungsan – Lupa sifar kemanusiaan. Kemanusiaan hanyalah sebagai slogan saja. Memanusiakan manusia hanyalah frasa yang dibahas di bangu sekolah saja.
  15. Lali kebecikan – Lupa kebaikan. Baik? bukankah itu bersifat relatif? Ya, dengan relatifnya tersebut kita sering pembuat definisi BAIK menurut kita sendiri, yang mungkin bisa merugikan orang atau pihak lain.
  16. Lali sanak, lali kadang – Lupa saudara dan keluarga. Wah, waktu saya benyak tersita untuk pekerjaan….jadi kamu sebagai istri tenang saja ya dirumah, urus tu rumah dan anak-anak……Nanti kalau ada adik saya menghubungi saya, katakan saya sedang sibuk….:)
  17. Akeh bapa lali anak – Banyak bapak melupakan anaknya. Habis sibuk kerja sih….:))
  18. Nantang bapa – Menantang bapak/ayah/orang tua. Banyak anak yang sekarang sudah berani menentang orang tuanya, dengan berbagai pembenaran yang dia buat.
  19. Sedulur pada cidra – Saudara saling bertengkar. Apalagi kalau sudah urusan warisan…..:))
  20. Keluwarga pada curiga – Keluarga saling curiga. Bukan curiga om Jayabaya, hanya waspada saja kok, jangan-jangan dia mau merebut warisan saya….:))
  21. Kanca dadi mungsuh – Teman jadi musuh. Banyak diantara kita yang sudah mengalami bertengkar dengan sahabat dan tidak bisa memaafkannya lagi?
  22. Akeh manungsa lali asale – Banyak manusia lupa dari mana dia berasal. Apalagi yang ‘’KERE MUNGGAH BALE” ( orang yang dulunya miskin lalu menjadi kaya raya). Congkaknya…….
  23. Ukuman ratu ora adli – Hukuman raja tidak adil. Lihat berita di media, mencuri buah dihukum 6 bulan, bahkan ada yang tahunan, tetapi yang korupsi triliyunan bebas saja….
  24. dan masih banyak lagi…
Ternyata masih banyak lagi ramalan JAyabaya yang telah menjadi kenyataan. Untuk lebih banyak tentang ramalan Jayabaya, silahkan lihat disini, dan nilai sendiri mana yang telah menjadi kenyataan sekarang.

15 komentar:

Membaca ramalan, mitos-mitos, tentu jangan menggunakan mindset "modernitas" yang mengedepankan rasionalitas dan objektifitas karena kita tdk akan menemukan apa-apa selain takhayul dsb.
Postmodern bg saya adalah pendekatan yg paling baik utk menafsir ini.
Jika pertanyaan wajib yg muncul dr modernitas adalah: sejauh mana validitas dari suatu persitiwa? Sedangkan postomedern bertanya: apa hikmah atau nilai yg bisa kita ambil.
Tanpa peduli validitas dr ramalan Jayabaya ini, tp postmodern mencoba mengambil "sesuatu" dr yg sebenarnya galib ini. Dan bagi sy cara pandang terakhir ini yg paling menentramkan...

Yogo mengatakan... [Jawab]

@ insanitis37 :
Makasih ya ide dan tanggapannya...:) Tanpa PM semalem saya belum nulis posting ini. Makasih idenya sekali lagi.

Sebelumnya saya mau coba ulas masalah "ramalan" Jayabaya ini. Sebagian orang jawa tidaklah sepakat dengan kata "ramalan" yang dilekatkan dengan pemikiran Jayabaya ini. Mereka lebih prefer dengan kata "jangka", yang berarti penglihatan akan masa depan. Jadi kalau digabungkan menjadi "Jangka Jayabaya".

Kalau kita menggunakan term "Jangka Jayabaya", yang ada bukan menilai penglihatan ini benar atau tidak, melainkan ketika situasi "yang terlihat" ini terjadi, apa yang harus dilakukan agar "tatanan" tetap terjaga.

Maka biasanya kebanyakan orang jawa (yang masih menganut kejawen) berpikir bahwa ketika wolak walikin jaman seperti yang diungkapkan oleh Jayabaya, mereka akan berusaha untuk bertahan dengan tatanan/aturan yang telah digariskan oleh leluhur mereka. Ada juga yang berpikiran "menyesuaikan" kebijakan mereka dengan jaman sekarang ini.

Betul seperti pendapat teman insanitis37, para tetua kita berpikir kalau wolak waliking jaman ini terjadi, kita harus bersikap dan bertindak sebijaksana mungkin, agar chaos yang ada bisa berkurang dan akhirnya sirna. Saya kurang paham apakah pemikiran seperti ini termasuk postmodern atau bukan.

Makasih ya mas insanitis37 sekali lagi....wah kayaknya balesan saya kepanjangan ya? hehehe...

Sepakat! Dalam kultur Sunda pun dikenal term "jangka" ini hanya saja dengan beda istilah. Kemampuan untuk "melihat" masa depan ini biasa disebut: nganjang ka pageto, yg bisa diartikan bertamu ke hari lusa.
Secara pribadi saya percaya bahwa ada beberapa orang tertentu yg memiliki (lebih tepatnya Dibuat menjadi memiliki)kemampuan ini.
Saya mempercayai kemampuan anormal ini karena merupakan konsekuensi dari pilihan sy: memilih untuk beragama. Bukankah semua nabi membincang tentang "penglihatan" semacam ini? Dan kita tahu bahwa adanya kehidupan setelah mati adalah bentuk "jangka" terbesar yg diberikan para nabi. Maka jika saya mempercayai nabi saya atas landasan iman, dan menyalahkan bentuk "penglihatan" yg lain, berarti sy gak fair dong?heheheh
Namun terlepas dari percaya atau tidak, sekali lg sy tidak melihat suatu peristiwa atau pengalaman yg hidup di masyarakat (membudaya) dr sisi objektivitas. Namun sy lebih tertarik untuk menelaah dan menemukan apa semangat sebenarnya dr suatu peristiwa.
Sebagai ilustrasi, sy tidak peduli dgn benar atau tidaknya (secara objektif) pengalaman nabi yg menemui TUhan di sidharatul munthaha. Tp sy lebih tertarik untuk mengambil apa nilai yg terkandung dr "penglaman" itu. Tak perlu jauh-jauh, bahkan hanya sekedar bisa memaknai peristiwa itu pun, bg sy itu sudah sangat bermanfaat. Sekali lagi, tanpa peduli kejadian itu bersifat nyata atau fiktif!

Yogo mengatakan... [Jawab]

@ insanitis37:
Betul,tapi kadang orang menggunakan ramalannya dengan kata penglihatan. Entah maksudnya apa, itu relatif.

Dan sayangnya banyak yang menggunakan istilah "penglihatan" akan masa depan untuk menakut-nakuti orang lain.

Alam966 mengatakan... [Jawab]

Aku nggak ngerti. Ramalan jayabaya itu apa ya? baru dengar.

Comment back me

Yogo mengatakan... [Jawab]

@ Alam966:
Dibaca dahulu, nanti mengerti.
Terimakasih.

cindygaga13 mengatakan... [Jawab]

@Yogo

hanya orang2 yg tak punya kepercayaan yg mempercayai ramalan

siswa sembada mengatakan... [Jawab]

ono wong omong-omongan dewe tanpo ano lawan omong............artinya,,,,,ada orang berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara dan munculah yang namanya telefon

Yogo mengatakan... [Jawab]

@cindygaga13
Cindygaga13 yang baik, beranti anda juga tidak percaya ramalan yg ada pada kitab suci anda ya?

Yogo mengatakan... [Jawab]

@siswa sembada
Telpon tu ada lawan bicaranya mas, tapi kalo pak presiden yang pidato, anggota DPR, orang gila, itu ngomong tanpa lawan bicara...

sehatjiwa mengatakan... [Jawab]

disini yang dimaksud dengan ramalan jayabaya atau jangka jayabaya adalah disaat keadaan serba modern serba mewah serba ada maka manusia akan merasa dirinya serba hebat dan memandang sesuatu itu hanya dengan kenyataan yang ia lihat didunia ini,hal gaib atau hal yang asal muasal kejadian dari peristiwa peristiwa kejadian alam dan kehidupan ini dilupakan atau malas untuk menanggapi hal seperti itu karna itu tak ada untungnya karna itu hanya membuang buang waktu saja..yang utama adalah keadaan sekarang,,,,namun isi yang terkandung dalam jangka jayabaya adalah menginggatkan supaya kita bila memesuki jaman seperti jangka tersebut kita diharapkan tetap waspada seperti bait beliau ''jamane jaman edan sing ora ngedan ora kenduman nanging sakbejo bejane wong kang lali isih bejo wong kang eling lan waspada''(jamannya jaman gila yang tidak ikut atau tidak mengikuti tingkah orang gila tidak akan kebagian namun seenak enaknya orang lupa diri masih enak orang yang sadar dan waspada)ini pesan beliau bila jaman udah memasuki jaman modern tersebut...maka coba renungkan maksud jangka jayabaya tersebut...

Yogo mengatakan... [Jawab]

@sehatjiwa

Saya sepakat dengan pemikiran saudara...

Anonim mengatakan... [Jawab]

@Yogo

maaf mas yogo.. maksudnya banyak orang bicara tanpa terlihat lawan bicaranya, jd seperti bicara sendiri, karna jaman dulu blum tau istilah ato nama "telepon".. gt kira2..

piss..

ayu rahayu mengatakan... [Jawab]

Intinya cuma iman

jamkho mengatakan... [Jawab]

oh iya ya, apa yang di ramalkan jayabaya itu bener bener sudah terjadi di dunia ini.. saya baru tahu kalau ramalam jayabaya itu sudah meramalkan apa yang terjadi di dunia ini,,seperti perempuan memakai pakaian lelaki..

Posting Komentar

Komentarlah sesuai dengan isi artikel. Spam akan saya hapus.

Bagi yang mau bertukar link, silahkan konfirmasi di kolom komentar.

 
 
 

Archives

 
Copyright © SUMBER BELAJAR |